Tepat 1 januari 2015, saya bersama kakak "Hasmawati Yunus" namanya, melakukan sebuah perjalanan disalah satu kota yang ada di Jawa. Saya dan kakak hanya bermodalkan sebuah keinginan dan keyakinan untuk menjelajahi kota tersebut. Sebelumnya, kami tidak pernah melakukan perjalanan ditempat itu karena, memang kota asalku pun bukan dari Jawa tetapi, Sulawesi Selatan tepatnya di Kota Makassar. Saya hanya numpang nuntut ilmu dijawa (Malang). Sebelum melakukan perjalanan (travelling nama kerennya), tentunya kami mencari - cari info tentang tempat tersebut, kami searching di internet tentang rute, biaya perjalanan, dan juga tempat peristirahatan. Kami melakukan persiapan seperti itu agar diperjalanan kami tidak kebingungan dan atau tidak dibodohi seseorang.
Setelah merasa semua persiapan telah siap, tentunya yang ditunggu-tunggu waktunya tiba, yaitu berangkat!. Saya begitu senang karena, bertambah lagi tempat yang saya jelajahi (pikirku) dan tentunya dengan Izin-Nya. Saya dan kakak berangkat naik bus, kurang lebih sekitar 5-6jam lah kami di bus tersebut. Selama di bus, saya hanya tidur (maklum hobi tidur) sambil mendengarkan musik namun, sesekali juga melihat orang sekitar karena, memahami karakterisasi itu penting.
Waktu berputar, dan terus berputar. Dan tahukah kau, akhirrrnnyyaa saya dan kakak tiba dikota tersebut. Tapi, berhubung waktu itu telah memasuki subuh "04:15 WIB" maka, sebelum melanjutkan perjalanan lagi, saya dan kakak mencari mushollah untuk sholat (ceritanya sok alim gitu). Kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menaiki bus agar sampai ketempat wisata yang kami idam-idamkan. Selama diperjalan, saya memperhatikan daerah sekitar sembari memahami kegiatan orang-orang kota tersebut (sok mengerti gitu).
Finally, kami pun tiba ditempat itu. Tempat yang dari dulu saya impikan untuk menjajakan kaki ditempat itu. Tempat tersebut banyak wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Tentunya, tidak lengkap perjalanan jika tidak berfoto - foto (gifo banget dah). Setelah puas foto-foto, kami istirahat. Cuaca waktu itu sungguh panas banget tapi, turun hujan (gak aneh kok). Pokoknya, setelah puas berkeliling ditempat itu, saya kemudian balik ke terminal tempat naik bus untuk melanjutkan conclusi ngebolang (perjalanan) lagi bersama kakak.
"11:05 WIB" Ditempat naik bus, banyak bapak-bapak yang sedang berdiri maupun menikmati secangkir kopi. Saya dan kakak bertanya kepada bapak-bapak tersebut "bus nya datang kurang lebih 15 menit lagi mbak, tunggu sebentar aja, ibu-ibu yang disana pun juga menunggu" jawab bapak itu. Tak lama menunggu, ada juga dua bule (orang luar negeri) dengan gaya nyentrik (pikirku saat itu) menunggu bus. Sungguh, cuaca saat itu panasss banget.
Busnya datang "kata bapaknya", saya dan kakak pun segera naik ke bus yang kecil, bus yang sudah tua menurutku hingga baunya sedikit membuat pusing (maaf, itu yang terasakan). Didalam bus tersebut hanya ada empat orang termasuk pak sopir. Saya mengambil posisi duduk paling depan, dekat pintu ketika orang - orang naik bus, saya ingin mendapatkan udara karena cuaca saat itu panas terik menggoda (yang kurasakan). Tak lama kemudian, dua bule perempuan yang menunggu tadi, segera menaiki bus yang sama yang kami naiki. Saat naik bus tersebut, salah satu dari mereka memandangi saya dan kakak dengan tatapan yang tak biasa orang memandang (cieelah sok ngerti aja). Dia memandang sembari berkata kepada temannya "what are they wearing? Why they closed head? is not that hot?". Saya langsung menengok ke bule itu dengan rasa kaget tentunya. "they are muslims" jawab temannya sambil menjelaskan lagi. Ada sedikit perasaan lega saat teman yang satunya tersebut menjelaskan tentang "muslim (menurut mereka)". Saya mendengar apa yang mereka katakan didalam bus yang begitu panas nan kecil tersebut. Saat saya mendengar percakapannya (sok ngerti bahasa inggris), saya hanya diam sambil memperhatikan mereka (bukan niat buruk loh), melihat bahasa tubuh mereka tentunya hati jadi terasa aneh mendengar percakapan mereka. Saya begitu memperhatikan mereka hingga muncul pemikiran dibenak seketika waktu itu "apakah dinegara mereka tak ada orang muslim? apakah mereka tidak mengetahui apa itu jilbab? apakah mereka begitu heran saat melihat orang yang menutup aurat (seperti saya dan kakak) walaupun panas?". Ahh, tiba-tiba saya hanya bisa diam dan mendengar musik melalui headphone, mendengar lagu sembari memperhatikan daerah sekitar, tentunya bule itu juga saya perhatikan. Bule itu mengenakan baju yang serba terbuka (mungkin karena panas), bajunya pendek layaknya baju dalam, celananya pendek diatas lutut, dan rambutnya terikat mungkin karena panas. Sambil menunggu penumpang yang lain, beberapa menit kemudian, bule itu turun dari bus untuk membeli minum dan cemilan. Bule itu sangat diperhatikan oleh bapak-bapak yang ada disekitar, para bapak - bapak itu begitu memperhatikan dari atas sampai bawah tubuh bule itu namun, bule itu malah tertawa kegirangan bahkan loncat-loncat gak jelas (salting diperhatiin mungkin yak) hehehe, hingga tubuh bagian depannya seakan untuk pemandangan hal layak (maaf). Mata para bapak-bapak itu tak pernah lepas dari tubuh bule yang mengenakan baju seksi (kataku) itu, memperhatikannya sungguh membuatku ilfil. Eeiitss, saya ilfil bukan karena iri atau apa loh yah. Tapi, sungguh saat itu, saya hanya bisa berbicara dalam hati, saya akhirnya sadar kenapa saya dan kakak, didalam agama diwajibkan mengenakan penutup kepala (jilbab). Saya sadar kenapa orang tua begitu menghargai jikalau kami mengenakan jilbab yang benar, walaupun ketika dingin, hujan, ataupun terik panas (seperti saat itu) sekalipun. Mempertahankan jilbab itu adalah suatu kewajiban yang Dia wajibkan. Sang Maha Pencipta pun telah menuliskannya didalam Al-Quran mengenai kewajiban tersebut ini. Saya sangat bersyukur kala masih bisa mempertahankan kewajiban tersebut bukan malah menjadi orang yang kecewa karena tidak bisa memperlihatkan rambut indah, dan mempertontonkan keelokan tubuh.
Bukan, saya bangga karena jikalau saya tak mengenakan pakaian yang diwajibkan mungkin nasib saya sama seperti bule itu, jadi penikmat mata bapak - bapak yang mana bukan mahram (maaf). Saya tahu, sebagian besar orang luar menurut mereka menutup aurat itu hal aneh (seperti yang bule perbincangkan) tapi, inilah kewajiban dari Sang Maha Kuasa, inilah tanggung jawab saya sebagai perempuan yang begitu banyak dititipkan tubuh ini, karena dititipkan tentunya saya harus bertanggung jawab menjaganya hingga telah Tuhan berikan seseorang yang pantas untuk melihat aurat ini, bukan malah mempertontonkan aurat ini kepada orang yang belum kita kenal dan bukan mahram.
Saya dan kakak pun juga bukan orang yang alim-alim banget tapi, kami mengerti keimanan dan keyakinan yang harus dijaga sebagai perempuan, sekalipun orang memandang aneh. Yah, selama kami tidak menyalahi akhlak dan aqidah, yah kami fine-fine aja dengan hidup ini. Saya merasa belum betul juga sih dalam mengerti kewajiban muslimat bahkan saya termasuk orang yang sering menyalahi aturan hehhe tapi, saya hanya berharap agar kedua bule yang saya temui selama perjalanan itu juga bisa mengambil hikmah saat mereka melakukan travelling (yang jadi sorotan). Amiinn.
Itulah jilbab dan travelling yang selalu dan wajib harus dipertahankan. Itulah mengapa conclusi bolang bukan mengenai perjalanan saja tapi, mengambil hikmah perjalanan. hehehehe




Penutup Kepalaku "Jilbab"! Bule Mempertanyakannya.