Entah apa yang terasa ditengah malam ini, rindu yang begitu hebat menghampiriku. Ditengah kesendirian dalam ruang berbentuk persegi panjang kuseketika terdiam, pena dan kertas seketika kutinggalkan. Kuterdiam, termenung merasakan hebatnya rindu malam datang secara berkepanjangan. Yah, kutau arti rindu ini, kutau rindu ini tak akan pernah berhenti. Rindu macam apa lagi ini? ku tak pernah merasakan rindu yang seketika meneteskan air mata. Begitu hebatnya yang kurindukan sehingga begitu mampu membuat hati dan fikiranku tercengang.
Dia yang kurindukan yah siapa lagi jika bukan Dia. Dia membuatku hidup, Dia yang membuatku bangkit, Dia yang mengajarku melihat dunia, Dia yang selalu mengerti setiap langkahku, Dia dan Dia. Dia yah hanya Dia. Siapa lagi kalau bukan Dia seorang Mama yang begitu hebat membuatku ada di dunia ini. Dia yang malam ini membuatku merasakan begitu hebatnya kerinduan itu. Yah, Dia yang kurindukan temani lelapku, temani pagiku hingga temani malamku. Dia yang kurindukan masakannya, Dia yang kurindukan suapannya, Dia yang kurindukan pelukan dan suara nasehatnya, Dia yang kurindukan canda tawanya, Dia yang kurindukan ketegasannya, Dia yang kurindukan perhatiannya. Maaf dan terimakasih ter-untuk Dia.
Tepat tanggal 31 Januari 1994 dihari senin, Dia melahirkan dan membawa seorang putri yang tak mengerti apa-apa masuk ke dunia, putri kecil itu hanya mengerti akan adanya tangisan, akan tangisan yang putri itu suarakan. Berkat tanggal dan kejadian itu, tanggung jawab Dia bertambah lagi, tanggung jawab Dia sebagai hamba, tanggung jawab Dia sebagai wanita yang mencintai akhlak, tanggung jawab Dia sebagai istri, dan tanggung jawab Dia kepada anak dan keluarga. Dia menemani putri itu tumbuh kembangnya, Dia menemani putri itu dengan tangan halus, hangat, nan sucinya. Ketika putri kecilnya itu beranjak mengenal dunia pendidikan Dia rela kepasar untuk membelikan tempat nasi, tempat air, dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan putri kecil itu untuk masuk pendidikan TK. Dia rela meninggalkan waktu kerjanya ketika siang itu demi melengkapi kebutuhan putrinya. Dia tak pernah mengeluh walaupun Dia harus membagi waktu 24jam demi tanggung jawab yang Dia emban. Dia super woman (kataku), Dia pahlawan wanita yang selalu ku agung-agungkan.
Ketika keluarga harus pindah tempat tinggal menuju kota yang lebih besar demi mementingkan pendidikan sang anak - anaknya dan kerjaan seorang suami (bapak, panggilku). Dia tetap rela kesekolah putrinya untuk menemani dan memperhatikan bahwa putrinya benar - benar aman. Kadang, dalam sebulan Dia selalu bertemu guru putrinya hanya untuk menanyakan keadaan putrinya disekolah.
Waktu berjalan dan berputar pada porosnya begitu cepat, putri itu tumbuh begitu cepat. Putri itu masuk SMP dan aktif mengikuti organisasi yang ada disekolahannya, putri itu kadang membuat Dia dan Suami (bapak, panggilku) khawatir karena lebih sering berada disekolah hingga petang dan malam. Namun, kekhawatiran Dia, selalu Dia balut dengan nasehat yang menenangkan putrinya. Dia hanya selalu berpesan berbuat baik, dan jangan lupa berlaku layaknya wanita. Dia selalu memberikan kepercayaan kepada putrinya itu, Dia selalu memberikan kesempatan putrinya untuk melihat dunia. Terimakasih hanturku.
Ada yang tak bisa putri itu lupakan, sampai kapanpun putri itu tak pernah lupakan. Ketika Dia yah Dia membuatkan sarapan untuk putrinya, ketika Dia dengan hangatnya memberikan suapan sarapan pagi kepada anaknya, Dia memberikannya dengan penuh kehangatan sembari menasihati putrinya yang telah beranjak duduk di bangku SMA, lagi - lagi Dia berkata belajar yang baik. Dia rela menyisahkan waktunya ketika pagi untuk melihat anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah, Dia selalu mensupport anak - anaknya selama masih berada dijalan lurus, dijalan yang Allah Ridhoi, Dia tak pernah lupa untuk mendo'akan anaknya, tak pernah. Difikiran Dia hanya pendidikan dan akhlak anak - anaknya, apapun rela Dia lakukan demi memberikan yang terbaik untuk anaknya walaupun kadang suara putrinya tak pantas untuk didengarkan. Maafku sungguh.
Kini, Dia hanya bisa berkomunikasi jarak jauh dengan putrinya tersebut, Dia hanya bisa mendo'akan dan menasihati putrinya via telepon. Tapi, hal itu tak ubahnya seorang putri tersebut menjadi anak yang dewasa walaupun kadang manja itu menghampiri. Putri itu kini tumbuh menjadi dewasa (menurutku), menjadi putri yang harus seperti Dia, putri yang berjuang demi membahagiakan Dia, putri yang selalu mencurahkan keluh-kesahnya via telepon, putri yang selalu berjelajah, putri yang ingin hidupnya penuh dengan kebaikan dan keimanan (seperti yang diajarkan), putri yang ingin hidup dengan akhlak yang tak pernah gugur, putri itu hanya bisa menulis dan membuatkan video untuk Dia ketika putri itu merindukan Dia.
Kini, hanya kata maaf dan terimakasih yang sungguh luas dapat ku ucapkan sebagai putri Dia, ku hanya bisa berdo'a sebagai anak perantauan, ku sebagai putri hanya bisa mengharapkan selalu kesehatan Dia, Dia yah Dia yang sedang berada dikota kelahiran. Putri itu saat ini dan kedepannya hanya bisa melangkah atas Ridho Sang Kuasa agar bisa seperti Dia, seperti wanita yang bisa segalanya (kataku). Putri itu selalu bangga karena tak akan pernah menjadi pembohong ketika berbicara dengan Dia, putri itu selalu menceritakan apapun yang putri itu rasakan dan kerjakan, putri itu selalu meminta izin kepada Dia, kepada Dia yang putri itu hormati dan hargai. Putri itu, sekarang melangkah selalu melangkah atas izin Dia selama tak melanggar akhlak dan aturan agama Sang Khalik.
Ketika keluarga harus pindah tempat tinggal menuju kota yang lebih besar demi mementingkan pendidikan sang anak - anaknya dan kerjaan seorang suami (bapak, panggilku). Dia tetap rela kesekolah putrinya untuk menemani dan memperhatikan bahwa putrinya benar - benar aman. Kadang, dalam sebulan Dia selalu bertemu guru putrinya hanya untuk menanyakan keadaan putrinya disekolah.
Waktu berjalan dan berputar pada porosnya begitu cepat, putri itu tumbuh begitu cepat. Putri itu masuk SMP dan aktif mengikuti organisasi yang ada disekolahannya, putri itu kadang membuat Dia dan Suami (bapak, panggilku) khawatir karena lebih sering berada disekolah hingga petang dan malam. Namun, kekhawatiran Dia, selalu Dia balut dengan nasehat yang menenangkan putrinya. Dia hanya selalu berpesan berbuat baik, dan jangan lupa berlaku layaknya wanita. Dia selalu memberikan kepercayaan kepada putrinya itu, Dia selalu memberikan kesempatan putrinya untuk melihat dunia. Terimakasih hanturku.
Ada yang tak bisa putri itu lupakan, sampai kapanpun putri itu tak pernah lupakan. Ketika Dia yah Dia membuatkan sarapan untuk putrinya, ketika Dia dengan hangatnya memberikan suapan sarapan pagi kepada anaknya, Dia memberikannya dengan penuh kehangatan sembari menasihati putrinya yang telah beranjak duduk di bangku SMA, lagi - lagi Dia berkata belajar yang baik. Dia rela menyisahkan waktunya ketika pagi untuk melihat anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah, Dia selalu mensupport anak - anaknya selama masih berada dijalan lurus, dijalan yang Allah Ridhoi, Dia tak pernah lupa untuk mendo'akan anaknya, tak pernah. Difikiran Dia hanya pendidikan dan akhlak anak - anaknya, apapun rela Dia lakukan demi memberikan yang terbaik untuk anaknya walaupun kadang suara putrinya tak pantas untuk didengarkan. Maafku sungguh.
Kini, Dia hanya bisa berkomunikasi jarak jauh dengan putrinya tersebut, Dia hanya bisa mendo'akan dan menasihati putrinya via telepon. Tapi, hal itu tak ubahnya seorang putri tersebut menjadi anak yang dewasa walaupun kadang manja itu menghampiri. Putri itu kini tumbuh menjadi dewasa (menurutku), menjadi putri yang harus seperti Dia, putri yang berjuang demi membahagiakan Dia, putri yang selalu mencurahkan keluh-kesahnya via telepon, putri yang selalu berjelajah, putri yang ingin hidupnya penuh dengan kebaikan dan keimanan (seperti yang diajarkan), putri yang ingin hidup dengan akhlak yang tak pernah gugur, putri itu hanya bisa menulis dan membuatkan video untuk Dia ketika putri itu merindukan Dia.
Kini, hanya kata maaf dan terimakasih yang sungguh luas dapat ku ucapkan sebagai putri Dia, ku hanya bisa berdo'a sebagai anak perantauan, ku sebagai putri hanya bisa mengharapkan selalu kesehatan Dia, Dia yah Dia yang sedang berada dikota kelahiran. Putri itu saat ini dan kedepannya hanya bisa melangkah atas Ridho Sang Kuasa agar bisa seperti Dia, seperti wanita yang bisa segalanya (kataku). Putri itu selalu bangga karena tak akan pernah menjadi pembohong ketika berbicara dengan Dia, putri itu selalu menceritakan apapun yang putri itu rasakan dan kerjakan, putri itu selalu meminta izin kepada Dia, kepada Dia yang putri itu hormati dan hargai. Putri itu, sekarang melangkah selalu melangkah atas izin Dia selama tak melanggar akhlak dan aturan agama Sang Khalik.
Maaf dan Terimakasihku, teruntuk Dia.
DiaKu, DiaKu yang tak pernah lepas dari raga.
Rindu Dia - 01:25