Sabtu, 28 Maret 2015

Rindu Dia - 01:25

             Entah apa yang terasa ditengah malam ini, rindu yang begitu hebat menghampiriku. Ditengah kesendirian dalam ruang berbentuk persegi panjang kuseketika terdiam, pena dan kertas seketika kutinggalkan. Kuterdiam, termenung merasakan hebatnya rindu malam datang secara berkepanjangan. Yah, kutau arti rindu ini, kutau rindu ini tak akan pernah berhenti. Rindu macam apa lagi ini? ku tak pernah merasakan rindu yang seketika meneteskan air mata. Begitu hebatnya yang kurindukan sehingga begitu mampu membuat hati dan fikiranku tercengang.
            Dia yang kurindukan yah siapa lagi jika bukan Dia. Dia membuatku hidup, Dia yang membuatku bangkit, Dia yang mengajarku melihat dunia, Dia yang selalu mengerti setiap langkahku, Dia dan Dia. Dia yah hanya Dia. Siapa lagi kalau bukan Dia seorang Mama yang begitu hebat membuatku ada di dunia ini. Dia yang malam ini membuatku merasakan begitu hebatnya kerinduan itu. Yah, Dia yang kurindukan temani lelapku, temani pagiku hingga temani malamku. Dia yang kurindukan masakannya, Dia yang kurindukan suapannya, Dia yang kurindukan pelukan dan suara nasehatnya, Dia yang kurindukan canda tawanya, Dia yang kurindukan ketegasannya, Dia yang kurindukan perhatiannya. Maaf dan terimakasih ter-untuk Dia.
            Tepat tanggal 31 Januari 1994 dihari senin, Dia melahirkan dan membawa seorang putri yang tak mengerti apa-apa masuk ke dunia, putri kecil itu hanya mengerti akan adanya tangisan, akan tangisan yang putri itu suarakan. Berkat tanggal dan kejadian itu, tanggung jawab Dia bertambah lagi, tanggung jawab Dia sebagai hamba, tanggung jawab Dia sebagai wanita yang mencintai akhlak, tanggung jawab Dia sebagai istri, dan tanggung jawab Dia kepada anak dan keluarga. Dia menemani putri itu tumbuh kembangnya, Dia menemani putri itu dengan tangan halus, hangat, nan sucinya. Ketika putri kecilnya itu beranjak mengenal dunia pendidikan Dia rela kepasar untuk membelikan tempat nasi, tempat air, dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan putri kecil itu untuk masuk pendidikan TK. Dia rela meninggalkan waktu kerjanya ketika siang itu demi melengkapi kebutuhan putrinya. Dia tak pernah mengeluh walaupun Dia harus membagi waktu 24jam demi tanggung jawab yang Dia emban. Dia super woman (kataku), Dia pahlawan wanita yang selalu ku agung-agungkan.
         Ketika keluarga harus pindah tempat tinggal menuju kota yang lebih besar demi mementingkan pendidikan sang anak - anaknya dan kerjaan seorang suami (bapak, panggilku). Dia tetap rela kesekolah putrinya untuk menemani dan memperhatikan bahwa putrinya benar - benar aman. Kadang, dalam sebulan Dia selalu bertemu guru putrinya hanya untuk menanyakan keadaan putrinya disekolah.
         Waktu berjalan dan berputar pada porosnya begitu cepat, putri itu tumbuh begitu cepat. Putri itu masuk SMP dan aktif mengikuti organisasi yang ada disekolahannya, putri itu kadang membuat Dia dan Suami (bapak, panggilku) khawatir karena lebih sering berada disekolah hingga petang dan malam. Namun, kekhawatiran Dia, selalu Dia balut dengan nasehat yang menenangkan putrinya. Dia hanya selalu berpesan berbuat baik, dan jangan lupa berlaku layaknya wanita. Dia selalu memberikan kepercayaan kepada putrinya itu, Dia selalu memberikan kesempatan putrinya untuk melihat dunia. Terimakasih hanturku.
          Ada yang tak bisa putri itu lupakan, sampai kapanpun putri itu tak pernah lupakan. Ketika Dia yah Dia membuatkan sarapan untuk putrinya, ketika Dia dengan hangatnya memberikan suapan sarapan pagi kepada anaknya, Dia memberikannya dengan penuh kehangatan sembari menasihati putrinya yang telah beranjak duduk di bangku SMA, lagi - lagi Dia berkata belajar yang baik. Dia rela menyisahkan waktunya ketika pagi untuk melihat anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah, Dia selalu mensupport anak - anaknya selama masih berada dijalan lurus, dijalan yang Allah Ridhoi, Dia tak pernah lupa untuk mendo'akan anaknya, tak pernah. Difikiran Dia hanya pendidikan dan akhlak anak - anaknya, apapun rela Dia lakukan demi memberikan yang terbaik untuk anaknya walaupun kadang suara putrinya tak pantas untuk didengarkan. Maafku sungguh.
            Kini, Dia hanya bisa berkomunikasi jarak jauh dengan putrinya tersebut, Dia hanya bisa mendo'akan dan menasihati putrinya via telepon. Tapi, hal itu tak ubahnya seorang putri tersebut menjadi anak yang dewasa walaupun kadang manja itu menghampiri. Putri itu kini tumbuh menjadi dewasa (menurutku), menjadi putri yang harus seperti Dia, putri yang berjuang demi membahagiakan Dia, putri yang selalu mencurahkan keluh-kesahnya via telepon, putri yang selalu berjelajah, putri yang ingin hidupnya penuh dengan kebaikan dan keimanan (seperti yang diajarkan), putri yang ingin hidup dengan akhlak yang tak pernah gugur, putri itu hanya bisa menulis dan membuatkan video untuk Dia ketika putri itu merindukan Dia.
           Kini, hanya kata maaf dan terimakasih yang sungguh luas dapat ku ucapkan sebagai putri Dia, ku hanya bisa berdo'a sebagai anak perantauan, ku sebagai putri hanya bisa mengharapkan selalu kesehatan Dia, Dia yah Dia yang sedang berada dikota kelahiran. Putri itu saat ini dan kedepannya hanya bisa melangkah atas Ridho Sang Kuasa agar bisa seperti Dia, seperti wanita yang bisa segalanya (kataku). Putri itu selalu bangga karena tak akan pernah menjadi pembohong ketika berbicara dengan Dia, putri itu selalu menceritakan apapun yang putri itu rasakan dan kerjakan, putri itu selalu meminta izin kepada Dia, kepada Dia yang putri itu hormati dan hargai. Putri itu, sekarang melangkah selalu melangkah atas izin Dia selama tak melanggar akhlak dan aturan agama Sang Khalik.
Maaf dan Terimakasihku, teruntuk Dia.
DiaKu, DiaKu yang tak pernah lepas dari raga.

Selasa, 24 Maret 2015

Pagi Itu? Tercipta Kerinduan! "170315"

          Kini anak kecil cerewet nan manja itu merasakan hebatnya kerinduan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Yah, dia merindukan hangatnya perhatian dan nasehat keluarga ketika ingin memulai aktivitasnya dan ketika malam tiba dia ingin mencurahkan keluh kesahnya bersamaan dengan diberikannya tatapan dan pelukan kasih sayang orang tua pada anak yang selalu mereka anggap manja nan cerewet itu.
          Karena dia sudah begitu lama terbiasa dengan pengambilan keputusan atas dorongan keluarga. Dia tak memikirkan apakah nantinya itu sulit atau mudah, dia tetap berjalan atas keyakinan dan pengambilan hikmah disetiap langkah anak kecil nan manja itu. Dia hanya terus berjalan tanpa memikirkan apapun karena, ada seorang ibu yang siap memberinya kecupan dan pelukan serta siap memberikan ketulusan.
          Karena ada orang tua yang ketika pagi dan malam datang, dia masuk ke kamar anak kecil itu untuk melihat, bertanya bagaimana dan mengapa lalu memeluk anak kecil itu. Bahkan hingga tumbuh ke umur yang dikatakan dewasa itu, anak itu masih saja mendapatkan kecupan dan pelukan yang mungkin orang lain katakan aneh tapi orang tua dan anak kecil itu telah membuatnya menjadi kebiasaan.
           Dan kini anak kecil nan manja itu sedang berjuang, yah sedang berjuang tuk bangun dan mewujudkan mimpi-mimpi besarnya. Walau kadang ditengah perjalanan, kadang dia meneteskan air mata menghadapi dunia yang begitu kejam. Dia tetap berusaha, berusaha, dan berusaha meneruskan perjalanannya atas tuntunan Sang PenciptaNya karena, dia akan tetap dan selalu menaruh keyakinan dan keimanan dihatinya. Semoga hingga waktunya tiba, anak kecil nan manja itu dapat melihat dan berdiri tegak melihat perjuangan mimpi besarnya. Ammiinn Ya Rabbal A'lamin..

Selasa, 10 Maret 2015

Seandainya dan Layaknya..! "Bunga Putri Malu"

     Kemarin, yah kemarin saya pergi melangkahkan kaki ke suatu tempat survei untuk kegiatan camp. Salah satunya tempat yang saya hampiri bersama teman-teman yaitu ke kuburan. Di kuburan kami mencari tempat untuk JJM (Jalan Jalan Malam), hal ini biasa dilakukan ketika pengambilan scraft dalam organisasi. Pada saat dikuburan tersebut, saya melihat banyak tanaman, salah satunya bunga Putri Malu. Saya merasa senang karena, bunga tersebut sudah tak pernah kujumpai lagi setelah selesai SMA padahal, bunga itu bukan termasuk bunga langkah atau mungkin mata saya saja yang kurang memperhatikan alam sekitar, tapi entahlah. 
       Ketika melihat bunga putri malu itu, tiba - tiba terlintas difikiranku, "apakah pada tanaman ini memiliki sesuatu yang spesial sehingga harus dikatakan putri malu?", sebagaimana diketahui jika putri itu sosok yang benar-benar dikagumi dalam negeri dongeng dan dunia nyata apalagi ketika dia memiliki rasa malu maka dia semakin terhormati. Tapi, itu semata kafilah pemikiranku saja. Entahlah, itu benar atau salah. Setelah saya melihatnya, saya menyentuhnya tentunya saya sudah tahu bahwa bunga tersebut daunya akan tertutup. Daunnya tertutup sehingga bentuknya beda dari daun awalnya. Saya pun menyentuhnya beberapa kali. 
        Ketika menyentuhnya, tiba - tiba terlintas sesuatu dibenak ini dan saya pun berkata kepada salah satu teman "Putri malu, yah namanya putri malu. Andai saja perempuan-perempuan di Negara ini seperti mereka (dibaca: daun) yang memiliki rasa malu tinggi, apalagi ketika dia disentuh dia akan merasa aneh, tentunya di Negara ini tak akan terjadi kejadian yang begitu merendahkan wanita di negera ini". Tersenyum temanku balasnya.
         Entahlah, pemikiranku ini benar atau salah tapi, ketika melihat dan menyentuh bunga tersebut pemikiranku seakan menghajarku karena, melihat para kaum hawa dan lainnya diluar sana yang menghadapi dunia keras sudah melupakan akhlak bahkan seakan saudara sekaumku (dibaca: hawa) sudah tak merasa malu lagi mempertontonkan auratnya, dengan mudahnya melakukan zina didepan khal layak, bahkan harga diri mereka seakan tak ada lagi. Naudzubillah...!
      Apakah mereka begitu mudahnya dihancurkan oleh dunia yang memiliki berbagai macam musim di negara ini? seperti musim kemarau dan musim hujan, sehingga diri mereka belum siap menghadapi perpindahan musim itu? Mereka seakan begitu mudah tergiurkan oleh tawaran menyesatkan. Seakan tumbuhan lebih berakhlak dibanding manusia "maaf, tapi fakta".
      Andai saja para kaum hawa mempercontohkan kehidupan ini layaknya putri malu, mungkin di Negara ini jauh dari fakta lapangan yang mengatakan bahwa "perempuan nakal" dan merekapun seakan malu ketika aurat mereka terombang - ambing serta zina pun akan mereka jauhi. Tentunya, jika mereka layaknya putri malu mungkin kata - kata hina seperti ""cabe-cabean" tak akan mungkin tercipta.
       Semoga kaum hawa pun di dunia ini dapat seperti bunga putri malu itu. Semoga para kaum hawa termasuk saya dapat menyadari bahwa, "jangan sampai akhlak tumbuhan lebih baik dibanding manusia"! Amiinn